Gelombang Boikot Trans7 Meluas Setelah Tayangan Xpose Dinilai Lecehkan Pesantren


14 Okt 2025/wizdan ulum/berita/44973 View

Belakangan ini jagat media sosial diguncang oleh seruan boikot terhadap Trans7. Aksi ini memuncak setelah tayangan program Xpose Uncensored memuat narasi yang dianggap menyinggung kehidupan santri dan martabat para kiai. Tuduhan tersebut mendapat kecaman dari berbagai kalangan, khususnya komunitas pesantren dan tokoh keagamaan.

 

Latar Belakang Seruan Boikot

Tagar #BoikotTrans7 mendadak trending ketika potongan video dari tayangan Xpose tersebar luas di media sosial. Dalam cuplikan itu, narator menyebut santri yang “nge-sot demi menyalami kiai” dan menyoroti pemberian amplop kepada kiai sebagai bentuk eksploitasi.

Banyak yang menilai bahwa narasi tersebut bersifat provokatif dan tidak proporsional, karena dianggap menyudutkan pesantren tanpa melakukan verifikasi dari pihak terkait.

 

Reaksi Kalangan Pesantren dan Tokoh Keagamaan

Desakan agar Trans7 bertanggung jawab muncul cepat. Berikut beberapa respons yang muncul:

  • LBH Ansor Kota Kediri menyatakan akan memberi peringatan hukum terhadap pihak produksi tayangan Xpose.
     
  • Anggota DPR dari PKB, Maman Imanulhaq, mengecam tayangan itu sebagai pelecehan terhadap martabat kiai dan meminta permintaan maaf terbuka.
     
  • Komunitas santri dan alumni pesantren ramai-ramai menyerukan boikot dan menuntut klarifikasi serta pengakuan kesalahan oleh Trans7.

     

Alasan Utama Orang Mendukung Boikot

Beberapa poin utama yang melatarbelakangi dukungan terhadap boikot:

  1. Pelecehan terhadap simbol keagamaan, tayangan dianggap merendahkan hubungan santri dan kiai
     
  2. Pemberitaan tidak seimbang, hanya menyajikan narasi tunggal tanpa verifikasi
     
  3. Salah persepsi publik, bisa memicu stigma negatif terhadap lembaga pesantren
     
  4. Etika jurnalistik dipertanyakan, penggunaan narasi provokatif dan framing negatif tanpa dasar
     

Harapan dan Tuntutan Masyarakat

Masyarakat, khususnya dari kalangan pesantren, menginginkan beberapa langkah konkret:

  • Permintaan maaf terbuka dari pihak Trans7
     
  • Klarifikasi resmi mengenai maksud dan tujuan tayangan
     
  • Evaluasi internal terhadap tim produksi dan redaksi agar tidak terulang
     
  • Teguran atau sanksi dari KPI sebagai lembaga pengawas media
     

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Trans7 yang menanggapi tuntutan tersebut secara komprehensif. Publik masih menanti langkah nyata agar kepercayaan dan hormat terhadap institusi pesantren kembali pulih.